Waskitanews.com – Telisik. Gaya Kepemimpinan Viman Alfarizi Ramadhan, Wali Kota Tasikmalaya, mulai mendapat sorotan tajam dari kalangan pengamat demokrasi dan kebijakan publik. Harapan terhadap hadirnya kepemimpinan muda yang progresif dan membawa perubahan dinilai belum sepenuhnya terjawab. Bahkan, muncul kritik mengenai lemahnya komunikasi antara pemimpin daerah dengan masyarakat.
Kritik tersebut disampaikan Direktur DEEP Indonesia (Democracy and Electoral Empowerment Partnership Indonesia), Neni Nur Hayati. Ia mengaku menyimpan kekecewaan terhadap arah dan gaya kepemimpinan Viman di Kota Tasikmalaya yang sebelumnya diharapkan mampu menghadirkan perubahan lebih progresif.
Menurut Neni, harapan terhadap sosok pemimpin muda semestinya dibarengi dengan kemampuan membangun komunikasi, mendengarkan aspirasi, serta merespons persoalan masyarakat secara terbuka.
Namun, berbagai keluhan warga yang diterimanya, baik melalui pertemuan langsung maupun pesan pribadi di media sosial Instagram dan TikTok, menunjukkan adanya persoalan yang perlu mendapat perhatian serius terhadap Gaya Kepemimpinan Viman Alfarizi Ramadhan ini.
Situasi tersebut semakin menarik untuk dievaluasi ketika dikaitkan dengan data pemantauan Intelligence Research yang disebut menunjukkan tingginya sentimen negatif terhadap gaya kepemimpinan Viman Wali Kota Tasikmalaya saat ini.
Bagi Neni, kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah kota. Sebab, kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan program dan laporan administratif, tetapi juga harus mampu membaca serta memahami persepsi masyarakat terhadap kebijakan yang dijalankan.
Harapan terhadap Pemimpin Muda Dipertanyakan
Kehadiran Viman Alfarizi Ramadhan sebagai kepala daerah muda sebelumnya membawa ekspektasi tersendiri bagi masyarakat Kota Tasikmalaya.
Sosok muda diharapkan memiliki energi perubahan, pola komunikasi yang lebih terbuka, serta keberanian menghadirkan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Namun, menurut Neni, usia muda seorang pemimpin tidak otomatis menjamin lahirnya kepemimpinan progresif.
Ukuran keberhasilan seorang kepala daerah tetap terletak pada kemampuannya memahami persoalan masyarakat, membangun komunikasi dua arah, serta memastikan kebijakan pemerintah memberikan manfaat nyata.
Kritik tersebut menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik tidak cukup dibangun melalui janji politik maupun pencitraan kepemimpinan. Kepercayaan harus dirawat melalui keterbukaan, konsistensi, dan kesediaan menerima kritik.
Ketidakhadiran dalam Forum Refleksi Jadi Sorotan
Salah satu hal yang disayangkan Neni adalah ketidakhadiran Wali Kota dalam forum refleksi dan evaluasi Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya.
Forum yang berlangsung pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026, di Aula Bapelitbangda tersebut mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi kepemudaan (OKP), lembaga swadaya masyarakat (LSM), aktivis perempuan, akademisi, budayawan, hingga tokoh agama.
Kegiatan yang digagas WARKOP TASIK bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya itu dirancang sebagai ruang refleksi untuk menghimpun pandangan, kritik, dan gagasan mengenai perjalanan serta masa depan Kota Tasikmalaya.
Bahkan, jadwal kegiatan semula pada Jumat malam, 30 Oktober 2026, diubah menjadi Sabtu malam dengan harapan Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan jajaran pemerintah dapat hadir.
Namun, harapan tersebut kembali tidak terwujud. Dalam pengumuman panitia, Wali Kota Viman disebut tidak dapat menghadiri kegiatan karena agenda peringatan hari jadi komunitas scooter.
Ketidakhadiran tersebut menuai kekecewaan sejumlah peserta. Momentum yang semestinya menjadi ruang dialog langsung antara pemerintah dan masyarakat justru kehilangan kesempatan untuk mempertemukan aspirasi dengan pemegang kebijakan.
Bagi Neni, forum semacam itu seharusnya menjadi kesempatan berharga bagi seorang pemimpin untuk mendengarkan langsung persoalan yang disampaikan berbagai elemen masyarakat.
Sebab, kemampuan komunikasi seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kepiawaiannya menyampaikan gagasan, tetapi juga dari kesediaannya mendengarkan kritik dan memahami suara publik.
Sentimen Negatif Harus Menjadi Alarm Kepemimpinan
Sorotan terhadap kepemimpinan Viman juga berkaitan dengan data Intelligence Research yang disebut menunjukkan tingginya sentimen negatif masyarakat.
Dalam era komunikasi digital, persepsi publik dapat terbaca melalui percakapan di berbagai platform media sosial, pemberitaan, serta respons masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Keluhan yang disampaikan warga melalui pesan pribadi maupun diskusi langsung juga menjadi gambaran adanya persoalan yang perlu didengar oleh pemerintah.
Namun, data sentimen digital perlu dibaca secara hati-hati. Tingginya sentimen negatif tidak serta-merta dapat disamakan dengan tingkat ketidakpuasan seluruh penduduk Kota Tasikmalaya.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh, diperlukan penjelasan mengenai periode pemantauan, jumlah percakapan, sumber data, metode analisis, serta perbandingan sentimen positif dan negatif.
Terlepas dari itu, kritik yang disampaikan Neni mengandung pesan penting bagi pemerintah kota: jangan menunggu ketidakpuasan masyarakat membesar sebelum melakukan evaluasi.
Pemimpin seharusnya mampu mengenali tanda-tanda melemahnya kepercayaan publik sejak awal, kemudian menjadikannya dasar untuk memperbaiki kebijakan dan pola komunikasi pemerintahan.
DPRD Jangan Kehilangan Fungsi Pengawasan
Kritik Neni tidak hanya diarahkan kepada Wali Kota, tetapi juga kepada DPRD Kota Tasikmalaya.
Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPRD memiliki fungsi penting dalam mengawasi jalannya pemerintahan, memastikan kebijakan berjalan sesuai kepentingan masyarakat, serta mengontrol penggunaan anggaran daerah.
Karena itu, fungsi pengawasan tidak boleh berhenti pada formalitas hubungan kelembagaan antara legislatif dan eksekutif.
Neni mengingatkan agar DPRD tidak terjebak dalam praktik kompromi atau kongkalikong dengan pihak eksekutif yang justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat.
Kritik tersebut menjadi penting karena hubungan antara pemerintah kota dan DPRD semestinya dibangun atas dasar pembagian kewenangan, kontrol, serta tanggung jawab terhadap publik.
Ketika fungsi pengawasan melemah, masyarakat berpotensi kehilangan salah satu saluran penting untuk memastikan kebijakan pemerintah berjalan secara akuntabel.
Wali Kota Diminta Mendengar Rakyat, Bukan Hanya Laporan ABS
Di tengah berbagai kritik tersebut, Neni menilai Viman masih memiliki kesempatan untuk melakukan pembenahan.
Ia mengingatkan agar Wali Kota membuka mata, telinga, hati, dan pikiran terhadap berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat.
Pemimpin daerah juga diharapkan tidak hanya mengandalkan laporan dari orang-orang terdekat yang berpotensi menyajikan informasi dengan pola Asal Bapak Senang (ABS).
Sebab, laporan yang selalu terdengar baik belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya di tengah masyarakat.
Seorang kepala daerah membutuhkan informasi yang jujur, termasuk mengenai kebijakan yang gagal, pelayanan yang belum optimal, serta persoalan yang belum terselesaikan.
Di sinilah pentingnya membangun ruang dialog yang sehat antara pemerintah, masyarakat, akademisi, aktivis, dan berbagai kelompok kepentingan.
Pemerintah tidak harus selalu menyetujui setiap kritik. Namun, setiap kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab semestinya mendapatkan ruang untuk didengar dan dipertimbangkan.
Belum Terlambat untuk Berbenah
Kritik terhadap kepemimpinan Viman seharusnya tidak dipandang sebagai serangan politik atau upaya menjatuhkan pemerintahan.
Justru, berbagai masukan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki arah pembangunan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Kota Tasikmalaya membutuhkan pemimpin yang tidak hanya hadir dalam agenda seremonial, tetapi juga mampu hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Masyarakat membutuhkan pemerintah yang mudah ditemui, terbuka terhadap perbedaan pandangan, serta berani mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan publik.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang kepala daerah bukan ditentukan oleh seberapa sering namanya muncul dalam kegiatan pemerintahan, melainkan seberapa besar masyarakat merasakan manfaat dari kebijakan yang dijalankan.
Viman masih memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa harapan terhadap kepemimpinan muda di Kota Tasikmalaya bukan sekadar ekspektasi yang berakhir menjadi kekecewaan.
Sebab, pemimpin yang kuat bukanlah mereka yang dikelilingi orang-orang yang selalu membenarkan keputusannya, melainkan mereka yang berani mendengarkan suara berbeda, menerima kritik, dan bersedia memperbaiki diri demi kepentingan rakyat. (HM)




