Langsung ke konten
Friday, 6 November 2026
waskitanews.com
Olahraga

Bupati Herdiat CEO PSGC Ciamis Urung Mundur, Posisi Terpuruk, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Waskitanews.com – Telisik. Kekecewaan terhadap performa PSGC Ciamis tampaknya sudah mencapai titik yang sulit disembunyikan. Kekalahan demi kekalahan, protes suporter, pernyataan emosional, hingga rencana pengunduran diri Bupati Herdiat CEO PSGC menjadi rangkaian cerita yang memperlihatkan betapa seriusnya persoalan di tubuh Laskar Singacala.

Di tengah situasi tersebut, nama Herdiat Sunarya kembali menjadi sorotan. Bupati Ciamis yang juga menjabat sebagai CEO PSGC itu bukan hanya harus menghadapi kekecewaan publik terhadap performa tim, tetapi juga pertanyaan mengenai arah pengelolaan klub kebanggaan masyarakat Tatar Galuh tersebut.

Persoalannya, ini bukan kali pertama emosi dan kekecewaan terhadap PSGC menjadi perhatian publik.

Momen ketika Herdiat menunjukkan kemarahan hingga melempar alat pengeras suara atau toa di hadapan penonton menjadi salah satu gambaran sikap emosional yang patut dicermati dalam dinamika hubungan antara pengelola klub dan suporternya.

Dalam sepak bola, kekecewaan suporter merupakan hal yang wajar. Mereka datang ke stadion, mengeluarkan biaya, meluangkan waktu, dan memberikan dukungan karena memiliki ikatan emosional dengan klub.

Namun, ketika respons terhadap situasi pertandingan mulai diwarnai tindakan emosional, persoalan tidak lagi semata-mata tentang siapa yang kalah atau siapa yang marah. Ada persoalan komunikasi, pengendalian diri, dan tanggung jawab kepemimpinan yang juga perlu diperhatikan.

Dari Janji Evaluasi hingga Pernyataan Manajemen Siap Mundur

Gelombang kekecewaan suporter PSGC kembali memuncak setelah Laskar Singacala kalah 1-2 dari PSMS Medan di Stadion Galuh, Sabtu (31/10/2026).

Hasil tersebut memperpanjang catatan buruk PSGC. Suporter kemudian menyampaikan protes dan mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap jajaran pelatih maupun pemain.

Bupati Herdiat CEO PSGC turun langsung menemui para pendukung. Di hadapan suporter, ia meminta waktu untuk melakukan pembenahan.

Bahkan, ia menyatakan tidak segan mengganti seluruh jajaran pelatih dan pemain apabila diperlukan. Herdiat juga menyampaikan bahwa jajaran manajemen siap mundur apabila pembenahan yang dijanjikan tidak dapat dilaksanakan.

Pernyataan tersebut tentu memberikan harapan kepada suporter bahwa manajemen memahami persoalan yang sedang terjadi.

Namun, harapan itu kembali diuji ketika PSGC menghadapi PSS Sleman dalam laga League Cup 2026/2027 di Stadion Maguwoharjo, Rabu (4/11/2026).

Bukannya menunjukkan kebangkitan, PSGC justru harus menelan kekalahan telak 0-6.

Hasil tersebut menjadi pukulan keras bagi tim sekaligus memperbesar tekanan terhadap manajemen.

Kalah 0-6, Herdiat Benar-Benar Ingin Mundur

Kekalahan dari PSS Sleman ternyata membuat Bupati Herdiat CEO PSGC semakin kecewa.

Dalam keterangannya pada Kamis (5/11/2026), ia mengungkapkan sempat menyampaikan keinginan untuk mundur dari kepengurusan PSGC kepada manajemen pusat Persib Bandung.

Herdiat menegaskan bahwa kekecewaannya bukan semata-mata karena PSGC kalah dari tim yang secara kasta kompetisi berada di atasnya.

Ia justru menyoroti kualitas permainan, organisasi tim, serta kedisiplinan pemain yang dinilai tidak menunjukkan perkembangan.

Menurutnya, permainan PSGC bahkan terlihat kehilangan pola, terutama ketika harus bermain dengan sepuluh pemain setelah salah satu pemain mendapatkan kartu merah.

Dalam kondisi tertinggal 0-2, para pemain dinilai masih terlalu berorientasi menyerang sehingga keseimbangan pertahanan justru terabaikan.

Herdiat bahkan memperkirakan PSGC bisa kebobolan lebih dari sepuluh gol apabila penjaga gawang tidak tampil maksimal.

Kekecewaan tersebut membuatnya merasa perlu mengambil sikap dengan menyampaikan pengunduran diri.

Namun, keputusan itu ternyata tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Ancaman Mundur yang Tidak Jadi, Manajemen Pusat Meminta Herdiat Bertahan

Ada perkembangan menarik setelah pernyataan pengunduran diri tersebut.

Manajemen pusat Persib Bandung justru meminta Herdiat tidak mundur dan tetap melanjutkan tanggung jawabnya dalam membangun PSGC.

Herdiat mengungkapkan bahwa manajemen pusat mengajaknya bekerja bersama untuk memperbaiki kondisi klub, terutama memulihkan mental para pemain yang dinilai sedang terpuruk.

Dengan demikian, pernyataan mundur yang sempat disampaikan setelah kekalahan 0-6 itu tidak berlanjut menjadi pergantian CEO.

Herdiat akhirnya memilih bertahan.

Di sinilah muncul pertanyaan yang patut direnungkan: jika sebelumnya manajemen menyatakan siap mundur apabila gagal melakukan pembenahan, lalu ketika pucuk kepemimpinan menyampaikan pengunduran diri justru diminta bertahan, bagaimana sebenarnya mekanisme pertanggungjawaban manajemen PSGC?

Tentu, keputusan bertahan bukan sesuatu yang keliru. Justru bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

Namun, publik berhak mendapatkan kepastian bahwa keputusan tersebut diikuti langkah konkret, bukan sekadar perubahan pernyataan setelah tekanan meningkat.

Dua Asisten Pelatih Mundur, Evaluasi Baru Dimulai

Di tengah keputusan Herdiat tetap bertahan, perubahan justru terjadi pada jajaran kepelatihan.

Dua asisten pelatih PSGC, Eka Ramdani dan Boy Jati Asmara, resmi mengundurkan diri setelah mendapat persetujuan manajemen pusat.

Keduanya telah bekerja bersama PSGC selama sekitar empat hingga lima bulan.

Herdiat menyampaikan penghargaan atas dedikasi dan kerja keras keduanya, meskipun hasil yang dicapai tim belum memenuhi harapan.

Untuk sementara, PSGC akan melanjutkan aktivitas bersama pelatih kepala Herry Kiswanto. Manajemen juga berencana mencari pengganti untuk mengisi posisi asisten pelatih.

Selain itu, evaluasi terhadap pemain juga disiapkan menjelang dibukanya bursa transfer pada 2 Januari 2027.

Manajemen bahkan merencanakan penambahan sekitar lima pemain baru, baik lokal maupun asing.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembenahan mulai dilakukan. Namun, pergantian personel saja belum tentu menyelesaikan persoalan apabila akar masalah dalam tata kelola, perencanaan tim, dan strategi kompetisi tidak ikut dievaluasi.

PSGC Bukan Milik Manajemen, Ini Kebanggaan Masyarakat Tatar Galuh

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah posisi PSGC dalam kehidupan masyarakat Ciamis.

Laskar Singacala bukan sekadar klub sepak bola yang bertanding setiap pekan. PSGC memiliki ikatan emosional dengan masyarakat Tatar Galuh.

Ketika tim menang, kebanggaan itu dirasakan bersama. Ketika tim kalah, kekecewaan juga menjadi milik bersama.

Karena itu, kritik suporter tidak semestinya hanya dipandang sebagai luapan emosi sesaat.

Mereka memiliki hak untuk mempertanyakan kualitas tim, kebijakan perekrutan pemain, kinerja pelatih, hingga arah pengelolaan klub.

Manajemen memang memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan teknis. Namun, kepercayaan publik tidak bisa diperoleh hanya melalui janji perombakan atau pernyataan bahwa semua persoalan akan diselesaikan pada putaran berikutnya.

Kepercayaan harus dibangun melalui hasil dan perubahan yang dapat dilihat.

Herdiat Harus Membuktikan Bahwa Keputusan Bertahan Bukan Sekadar Menunda Persoalan

Keputusan Herdiat tetap bertahan sebagai CEO PSGC kini menjadi babak baru yang harus dibuktikan melalui kinerja.

Ia telah menyampaikan kekecewaan, mengakui persoalan permainan, bahkan sempat menyatakan keinginan mundur. Namun, manajemen pusat meminta dirinya tetap memimpin pembenahan.

Artinya, tanggung jawab yang sebelumnya hendak ditinggalkan kini kembali berada di pundaknya.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Herdiat akan mundur atau bertahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang akan berubah setelah semua pernyataan tersebut?

Apakah PSGC akan memiliki pola permainan yang lebih jelas? Apakah perekrutan pemain akan dilakukan berdasarkan kebutuhan teknis? Apakah evaluasi manajemen juga dilakukan secara terbuka? Dan yang tidak kalah penting, apakah komunikasi dengan suporter akan dibangun secara lebih sehat?

Sebab, klub yang besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang berani menunjukkan kemarahan ketika tim kalah. Klub juga membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengelola tekanan, mengambil keputusan rasional, dan bertanggung jawab atas setiap kebijakan.

Herdiat masih memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa keputusan bertahan bukan sekadar menunda persoalan.

Bagi masyarakat Ciamis, yang ditunggu bukan lagi pernyataan emosional, janji mundur, atau pergantian beberapa nama di jajaran pelatih.

Mereka ingin melihat PSGC kembali bermain dengan identitas, semangat, dan kualitas yang layak dibanggakan.

Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya jabatan CEO atau nasib sejumlah pemain dan pelatih. Ada harga diri klub serta harapan ribuan pendukung yang selama ini tetap setia berdiri di belakang Laskar Singacala. (HM)