Thursday, Mar 11th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: Home
 
Tanah Longsor Luluh Lantakkan Rumah

WASKITA – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Ngebel Ponorogo pada Selasa (29/12) sejak pukul 10.00 WIB sampai petang mengakibatkan terjadinya tanah longsor di dua titik di wilayah kecamatan tersebut. Kedua titik tersebut antara lain Desa Gondowido dan  Desa Talun. Akibat longsor tersebut, satu rumah warga rata dengan tanah.
Ibu Surib 65, warga Desa Talun hanya bisa meratapi rumahnya yang sudah rata dengan tanah akibat tertimpa longsoran tanah. Longsornya tebing yang berada tepat di atas rumah Surib tersebut terjadi pada Selasa sekitar pikul 16.30 WIB yang dibarengi dengan hujan lebat. Surib yang waktu itu pulang dari ladang dan hendak minum kopi dikagetkan dengan  rumahnya yang tiba-tiba roboh, akhirnya ia  langsung berlindung di bawah meja lalu lari keluar melalui jalan kecil di bawah puing-puing reruntuhan rumahnya. Nasib baik masih berpihak pada Surib sore itu, sehingga dia masih bisa selamat.
Sebenarnya pas kejadian itu tetangga Surib yang tinggal diatas rumahnya tersebut sudah berteriak meminta Surib untuk cepat keluar rumah karena melihat separuh rumah surib sudah ambruk tertimbun longsor.
Surib yang tinggal di RT.II/ I. dukuh Plumpung Desa Talun  baru dua tahun menempati rumah yang sudah rata dengan tanah tersebut . Dari kejadian itu, janda satu anak ini mengalami kerugian kurang lebih Rp 20 juta, karena mulai dari bangunan rumah dan isinya semua hancur tidak ada yang bisa diselamatkan. “Gak tau mas saya harus bagaimana lagi ini saya sudah tidak punya apa-apa lagi gabah dan jagung yang ada dalam karungpun ikut ketutup lumpur,” ucapnya sedih.
Kerugian sebesar itu bagi diri Surib merupakan kerugian yang luar biasa besarnya. Untuk merenovasi rumahnya lagi, terasa tidak mampu lagi. “Duko mangke pripun sahene pemerintah dateng tiyang sekeng kados kulo meniko mas (entah gimana bagusnya pemerintah nanti terhadap orang miskin seperti saya ini mas, red),” tukasnya.
Meskipun direnovasi nanti, dirinya tidak mau pindak tempat, ia tidak ikut anak-anaknya yang tinggal di tempat lain. dirinya merasa masih kuat untuk beraktifitas sendiri sehingga tidak mau merepotkan anak. “Saya hanya menunggu bantuan pemerintah saja mas untuk membangun rumah ini, dan saya mau di tempat ini lagi. Saya masih ingin bekerja sendiri saya masih kuat dan saya tidak mau bikin repotnya anak, karena anak saya juga punya anak sekolah,” tukasnya.
Sementara Partini 35, anak satu satunya Surib menginginkan ibunya hidup bersamanya,  karena takut kejadian itu terulang kembali, mengingat struktur tanahnya yang mudah retak atau longsor.  “Untuk nanti saya harap simbok hidup bersama saya, saya gak tega kalau menempati lokasi ini lagi takut terulang lagi karena tanah sini gembur dan mudah retak,” tegasnya. Ratimin 57, seorang perangkat desa dan juga masih tetangga Surib berharap nantinya Surib pindah ke lokasi lain, karena daerah tersebut rawan longsor. Pihaknbya juga akan mencarikan solusi agar beban yang ditanggungnya lebih ringan lagi.
Sementara Longsor di Gondowido tidak separah di Talun. Longsor di desa ini mengakibatkan tertutupnya jalan penghubung seputaran telaga Ngebel selama setengah hari. Longsor dengan lebar 4 meter dan panjang 400 meter ini menimbun badan jalan setinggi 40 cm tepatnya di tikungan Kemambang desa Gondowido. Tertutupnya badan jalan dari lumpur, batu dan kayu tersebut baru bisa dibersihkan warga sekitar pada Rabu pagi (30/12) itupun hanya separo badan jalan.
Supartun salah seorang warga Gondowido yang membuka warung berjarak 100 meter dari lokasi longsoran, mengatakan penyebab dari longsor tersebut diakibatkan hujan lebat yang cukup lama. “Memang hari Selasa itu mulai jam 10.00 hujan lebat yang tak henti-henti,  dan pada jam 17.00 sore terjadi longsor, tahu-tahu air beserta lumpur dan batu melorot dari atas sana,” terangnya.

Roso Pegawai Dinas Pariwisata Ngebel. Ia menjelaskan untuk menghindari kemacetan di jalur keliling telaga Ngebel pihaknya bersama masyarakat membersihkan timbunan lumpur di badan jalan tersebut. “Dari pagi sampai pukul 10 siang kami bersama warga membersihkan separo badan jalan, karena mendekati tahun baru dan sini akan rame pengunjung,” ungkapnya. (mal)

 
 

 

Mantan Kades Klecorejo Divonis Bebas
Jumat, 25 Desember 2009
MADIUN – Tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi, Supardi, 55, mantan Kepala Desa (Kades) Klecorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun,... Selanjutnya...
Belum Ada Perda, Warnet Jadi Tempat nge-Date
Minggu, 03 Januari 2010
Layaknya kota-kota lainnya, perkembangan tehnologi dan informatika juga berkembang pesat di Ponorogo. Kebutuhan masyarakat akan informasi juga... Selanjutnya...